RSS

another unfinished story


KOMEDI PUTAR


Serena menyandarkan badan mungilnya pada pagar pembatas. Ditatapnya komedi putar yang sedang berputar pelan itu dengan tatapan kosong. Angin malam yang berhembus membuat gadis itu sesekali menggigil, apalagi pakaiannya hanya celana pendek dan kamisol.
“Mau naik?” sebuah suara tiba-tiba terdengar dan mengagetkan Serena. Dia tersenyum tipis sebelum berbalik badan.
“Kok Adit ada disini?” tanyanya sambil tersenyum lebar.
Yang ditanya cuma mengangkat bahu dengan malas. “Menurut lo kenapa?” Adit menjawil hidung Serena. “Ada anak kecil nekat kabur dari rumah, dan gue kena titah harus nyari,” lanjutnya dengan muka sewot.
Serena terkekeh, yang bikin muka Adit makin merenggut sebal. “Udah dari jam berapa lo disini?”
“Dari sebelum gelap,” jawab Serena. Adit hanya diam. Diulurkannya tangannya yang langsung disambut oleh Serena.
“Terus, udah naik apa saja?” Serena hanya menggeleng pelan. “Ck, sayang banget, sih.” Gerutu Adit pelan.
“Kan males Dit, naik mainan sendiriii...” Serena memonyongkan bibirnya dan memasang muka memelas.
“Nah, trus lo ngapain kesini kalau nggak mau naik apa-apa?” Ditanya begitu Serena hanya diam, dan menunduk. “Lo naik apa kesini?” Adit bertanya pelan sambil tangannya memegang dagu Serena.
“Naik taxi,”Serena berusaha melihat ke arah lain, dan nggak mau menatap langsung ke arah Adit.
“Habis berapa?”
“seratusan...”
Adit berdecak. “berarti hampir dua ratus sama tiket, kan?” Serena mengangguk lagi. “Terus semua itu cuma biar lo bisa melototin mainan-mainan ini?” Serena nggak menjawab apa-apa. Akhirnya matanya menatap mata Adit. Tapi sekarang mata itu berkilau dibawah lampu, basah karena air mata.
Adit mendesah. Dengan sedikit kasar ditariknya Serena ke dadanya. Dibiarkannya gadis itu terisak-isak disana. Masih tanpa suara Adit membelai rambut Serena lembut. “lain kali kalau mau pergi-pergi, gue jangan lupa diajak, at least kan kita bisa patungan taxi...” kali ini Adit bisa merasakan bahu Serena berguncang karena tawa. “Sssh, udah ah nangisnya. Masih ada setengah jam nih, lo mau naik apa?”
Serena melepaskan diri dari Adit, dengan asal dia menghapus airmatanya, “Adit mau naik apa?” Adit hanya mengangkat bahu dengan gaya khasnya. “Hmm, ya udah, kalau gitu kita naik gajah-gajahan aja yuk... aku lagi malas naik yang heboh-heboh,” katanya sambil menarik tangan Adit menuju tempat permainan itu.
Adit hanya pasrah dan membiarkan dirinya ditarik ketempat permainan yang dibuat khusus untuk anak-anak itu. “Adit...” dia mendengar Rena berbisik pelan, “kita bakalan sama-sama terus,kan? Nggak kayak Mama dan Papa?”
“Pasti...”bisiknya.

***

fiction:something that i wrote, something that i made up

i miss him. Damn,this is not good. Sambil sibuk mengutak-ngatik dicsman pinjaman, kuingat-ingat lagi kejadian kemarin.


"Hey.. Macet ya?" dia berdiri buat menyambut kedatanganku. Aku tersenyum lebar dan mengambil tempat duduk disampingnya.

"Nggak, tapi sopir gue ambil jalannya aja ngaco, jadi muter-muter gitu," gerutuku. Dia mengangguk sambil memindahkan tasnya agar dudukku lebih nyaman. Sambil sedikit merapikan meja yang bertebar berbagai catatannya dia menanyakan ruteku sepintas, yang kujawab dengan keterangan tak jelas. Setelah dudukku nyaman kuteliti kertas menu. DIa memandang sekeliling kami.

"mau pindah nggak, kesitu?" tanyanya sambil menunjuk sebuah sofa panjang berwarna merah yang memang terlihat lebih nyaman dibanding tempat duduk kami sekarang.

"boleh," jawabku.

Dia sempat menghilang untuk mencari pelayan, jadi aku duduk di sofa itu sendiri. Kupandangi kafe kecil itu. Nuansanya kecoklatan, cahaya yang mengisi ruangannya terlihat suram, hanya berasal dari sebuah jendela besar di salah satu dindingnya. Ruangan itu sedikit pengap, dipenuhi asap rokok yang mengepul di dalam ruangan ber AC ini. Aku hanya bisa melihat siluet para pengunjung lain yang memenuhi lantai dua tempat ini. Aku menyukainya. Tempat ini mendukung pertemuan kami yang sifatnya memang agak rahasia.

Dia sudah datang kembali, dan duduk disampingku. Aku tersenyum tipis oleh fakta ini mengingat dulu dia pernah bilang posisi ini konyol, karena membuat kami terlihat seperti penonton bioskop tanpa layar untuk diamati. Tapi toh belakangan dia mengakui, bisa duduk disampingku jauh lebih penting dibanding posisi keren manapun.

Dia lalu menyakan kisahku, aku bercerita. Aku menanyakan hidupnya, dia menjelaskan. Lalu kami terdiam cukup lama, tanpa suara mendengarkan dengung percakapan dari meja-meja lain. Dia menggeser duduknya, dan mengamatiku dari samping. Dia menatapku cukup lama sehingga yang bisa kulakukan adalah menatapnya balik. "Apa?" tanyaku dengan sedikit terganggu.

"Lo pakai behel,ya?" Aku tertawa, sambil sedikit menutupi mulutku agar dia tak bisa melihat jelas.

"udah lama kaliii," jawabku sambil tersenyum. Dia cuma memandangku. Aneh. He looks startled.

"Mana coba liat," pintanya. Aku cuma menggeleng sambil tersenyum. Dia terbahak. "Sini liat," katanya lagi kali ini sambil berusaha memegang daguku. Aku terhenyak, dan kucoba untuk menepis tangannya. Aku belum siap untuk sentuhan apapun darinya.

Mungkin ketidaknyamananku tergambar jelas, yang pasti dia lantas juga menarik tangannya. seolah-olah kaget dengan reaksinya sendiri. Kami terdiam lagi, kali ini terasa hening.



Pikiranku kembali ke hari ini, dan kusadari keadaannya juga hening. CD apapun tadi yang sedang kudengarkan sudah berhenti berputar. Sudut bawah komputerku berkedap-kedip, ada sebuah pesan masuk.

:gimana kemarin?

seorang temanku bertanya. aku tersenyum tipis, sedikit menyesali keputusanku untuk menceritakan tentang rencana pertemuan itu padanya.

= it went well

aku membalas

:detail please... x((

aku terbahak.

=later okay

:fine...! huh sok rahasia... xP

tawaku makin keras melihat jawabannya. Setengah tersenyum kupandangi peracakapan singkat tadi sambil memikirkan apa yang harus kukatakan pada temanku tadi.

Aku mengklik kotak-kotak kecil pada layar komputerku, dan akhirnya membuka sebuah halaman kosong. Apapun yang kurasakan sekarang pekerjaanku tetap harus kuselesaikan. Kupandangi layar kosong tadi, shit, otakku sama kosongnya dengan layar ini.

Aku mengetuk-ngetukkan pulpenku seirama dengan garis kursor yang berkedap-kedip, lalu kuambil HP-ku. Aku ingin mengontaknya. SMS, telpon, apapun, yang penting menghubunginya. Mendengar suara atau mengetahui kabarnya. Tuhan, rasnya aku sudah gila.

Dengan berat hati kuletakkan lagi HP ku. Aku tak suka keadaan ini, rasanya seperti kembali ke beberapa tahun lalu dan sumpah, aku tak mau mengalaminya lagi. Hhh...

Aku rasa, aku jatuh cinta, lagi.

it could be nothing, or something.but i wish it wouldn't be everything

so,i met him yesterday.it went nicely.we talk,and talk,and talk.there were silent moment of course,but even those moments felt nice.i cant help but notice that the more we talk the closer space between us in that worn out couch.and the more i hate the fact that i had to go back to my office.he seemed share the same feeling though,due to the look on his face everytime i asked, "udah?mau balik?".
we do our best to prolong it,until there's nothing we can do but go back.

but the worst of it was,im craving for more.hhh...

headache,heartache,toothache,,u name it,i have it all

sebenarnya gue pengen deh punya blog yang isinya ringan,lucu,dan menghibur.tapi ga tau kenapa setiap gue buka page ini bawaannya pengen curhat dan mengasiani diri sendiri terus.

kaya sekarang,gue lagi mau mengeluh lagi.kepala gue sakit,semangat gue merosot,hati guee...well,hati gue lagi setengah mati berharap buat bisa berdetak normal lagi.buat bisa jadi sedikit berpacu agak kencang,bikin gue merasa dag dig dug lagi.tapi kayaknya hati gue rehat.rehat buat merasakan.yang sepertinya jadi bikin otak gue jadi punya keinginan yang sama,ingin rehat dari berpikir.

hati gue itu aneh,saat gue setengah mati berharap dia buat mati rasa,tiba-tiba dia dipenuhi oleh rasa yang sama sekali yang gue ingini ada disana.tapi saat gue lagi pengen dia terisi oleh sesuatu,ternyata dia kosong,kosong tapi pengap.yang bikin dia nggak memungkinkan buat diisi apapun yang baru lagi.hati gue jadi kayak ruang hampa,kosong tapi penuh.hm,kok gue jadi nggak ngerti maksud gue sendiri ya.

tadi gue baru aja cerita ke temen kantor gue.i said,"u know,i used to have a perfect boyfriend,a perfect relationship," and then of course she asked,"then what happened?"
well,what else,he died of course.there's no way something that good would last forever.and then she laugh and said that my life really is a drama.hahaha,she can be more right than that.

so,what now?what will my next chapter be like.

i hope it'll be the one that ended with the famous line,"and they live happily ever after" and it would be all.

amen.

smile

i cant stop smiling,and of course it makes me look silly, but who cares.
they finally there, those butterfly in my stomach,because the same old boy,but then again who cares.

let me just enjoy it,i want to keep them for awhile...

...

NARA

"I met a really beautiful girl yesterday," seloroh Caesar sambil membanting badannya di bangku samping gue.
"So?" gue nanya balik sambil males-malesan. Bukannya gue nggak peduli, tapi Caesar meets beautiful girls all the time, and those beautiful girls also find him beautiful, if you know what i mean.
"No, I'm serious, man. You have to meet this girl, she really IS beautiful. Seakan-akan dia bukan datang dari dunia ini," lanjutnya lagi. Mau nggak mau penjelasannya bikin gue penasaran, dan waktu gue memutar badan gue supaya bisa lebih menyimak ceritanya he has this dreamy look on his face. Sesuatu yang belum pernah gue liat di muka Caesar sebelumnya.
"That beautiful, huh?" tanya gue lagi. Caesar cuma mengangguk kecil, mukanya masih menampakkan ekspresi terpana dan seolah-olah bermimpi tadi.
Seperti para gadis yang sering dia ceritain, Caesar juga dikaruniai muka yang luar biasa tampan. Mungkin gue terdengar gayish but trust me, semua orang, kecuali orang buta tentunya, bakal bilang hal yang sama kayak gue. Mungkin itu karena darah campurannya, atau mungkin karena dia anaknya seorang supermodel terkenal, atau mungkin itu karena turunan bangsawan bapaknya, apapun itu, semua hal tadi ngasih dia penampilan yang bikin cewek manapun bertekuklutut."So, when will you meet her again?" tanyaku. Caesar masih diam, "lo bakal ketemu dia lagi kan? Atau lo akhirnya berhasil ketemu cewek yang nggak tertarik sama lo?" Kata-kata gue tadi sukses bikin dia meringis.
"Naah,i'll meet her again. Maybe she looks ethereal, but thankfully she still normal," ujarnya sambil tertawa. Aku cuma mendengus. Yeah, Caesar and his conquest. Semoga saja yang kali ini berakhir nggak terlalu buruk.


CAESAR
Nara masih sibuk dengan gitarnya. Sekali-kali tangannya berpindah dari senar ke sebatang rokok kretek yang hampir nggak pernah lepas dari mulutnya. Gue nggak ngerti kenapa Nara suka banget rokok jenis itu, but sometimes selera dia memang aneh banget. Kadang gue suka ngerasa Nara hidup di jaman yang salah. Mungkin harusnya dia lahir di jaman bokap gue dulu. Selera musiknya, jenis rokoknya, kopinya, dan tentunya pola pikirnya jauh lebih tua dari umurnya yang baru 17 tahun. Gue aja yang udah 18 tahun nggak setua itu.
Gue sama Nara udah main bareng sejak SD. nggak tau kenapa kok gue bisa deket banget sama manusia itu, mungkin karena dia satu-satunya orang yang nggak terintimidasi sama tampang gue. Dari kecil gue emang udah ganteng, silahkan muntah sesuka lo, tapi i'm just being honest. Tampang gue jauh diatas rata-rata tampang standar orang Indonesia yang biasanya beridung nggak terlalu mancung (kalau nggak mau dibilang pesek), berkulit gelap, dan punya tinggi rata-rata 165 cm. Mungkin karena gue emang nggak 100% Indonesia. Nyokap gue setengah brazil setengah Bali. Bokap gue keturunan kraton, sekarang dia jadi diplomat yang kerjaannya muter-muter mulu, bikin dia n nyokap jadi jarang banget di rumah. Good money though.
Oh salah satu lagi keuntungan jadi gue, i have a thick wallet. Jadi cewek mana yang nggak mau sama gue, udah ganteng kaya pula lagi. Paket lengkap, kan? jadi menurut gue wajar aja kalau gue jadi sedikit playboy and kurang menghargai mereka. Those girls, when it comes to me, is just so easy to get. Tapi cewek yang gue ceritain ke Nara tadi adalah pengecualian. Dia kayak peri, bidadari..yah makhluk-makhluk khayal itu lah. Cantik banget!


SENJA

Hm, rumahku kosong. Kemana ya orang-orang? Kuintip kamar Kak Bulan dan Kak Bunga, tapi kayaknya kakak kembarku itu sedang nggak ada. Huh, aku membuang nafas dengan keras, dan membuat poniku terangkat. Bakal bengong lagi deh sore ini. Ngapain ya...?
Sambil melangkah gontai aku memasuki kamarku, jauh lebih rapi dibanding waktu kutinggal tadi pagi. Kulempar tas ku keatas kasur, dan berjalan ke walk-in closet untuk memilih baju.
Samar-samar kudengar hand phoneku berbunyi, tapi mau buru-buru mengangkatnya juga malas, jadi kubiarkan saja HPku berbunyi. Akhirnya siapapun itu yang menelponku menyerah juga. Setelah mengambil sebuah camisol pink, dan celana khaki selutut, aku keluar.
Aku membuka jendela kamar, dan membiarkan angin segar masuk. Walaupun matahari bersinar terik, tapi angin bertiup cukup sering, seolah-olah berusaha mengusir rasa panas yang disebabkan si matahari. Berenang seru juga nih, pikirku. Tapi lantas teringat HPku yang tadi berbunyi. Caesar.
Ya ampun, cowok ganteng tadi menelponku. Jantungku rasanya langsung berdegup nggak karuan. Duh, kenapa tadi nggak kuangkat aja sih! Sambil mengutuk-ngutuk dalam hati, aku menekan nomor Caesar. Tapi langsung kubatalkan. Setengah panik, aku menatap layar HPku. Kalau kutelpon balik bakal ketauan banget nggak sih kalau aku naksir sama dia? Tapi kalau Caesar memang mengharapkan buat ditelpon balik gimana? Duuuh, serba salah. Tapi aku memang pengen ngobrol sama dia lagi sih, ya udah deh kutelpon lagi aja. Berbarengan dengan angka pertama yang kutekan, telpon ku itu berbunyi lagi. Caesar. Sambil tersenyum senang, aku bersiap menjawab.


to be continued...

hari rabu nan biru

karena baru ganti lay out jadi lebih semangat nulisnya,huehue...

hari ini juga semangat sih,karena ada janji jumpa temu sama nand n mel di grand indonesia,sengaja minta jam 2,karena biasanya duit gajian masuk ke rekening pas jam segitu,hahaha.

lalu nanti juga bakal ada interview sama si stylist terkenal itu,chitra subyakto.can hardly wait,kalau dari hasil smsan dia terkesan sangat baik dan ramah.pengen jadi kayak diaa...tapi buta mode xD

________________

AKAP (Antar Kota Antar Propinsi)

so...let me tell u one of my stupid act last friday. seperti biasanya di hari itu gue mau pulang naik kereta.gue berencana mau naik yang jam 17.29 (i dont why the put the schedule in an odd time like that,why not just 17.30, does 1 minute really make a difference?) tapi karena gue sampai di stasiun jam 17.10, gue memutuskan untuk menyebrang ke peron dua (kereta ke serpong ada di peron 1)buat nebeng kereta apapun yang kearah manggarai.kenapa?karena kereta jam segitu itu sangatlah penuh, kemungkinan gue buat dapet tempat duduk itu kecil banget, kalau gue naik dari manggarai keretanya bakalan lebih kosong jadi gue bisa duduk.

nggak lama setelah gue nyebrang...datanglah kereta tujuan bojong (bogor)tanpa pikir panjang lagi, gue langsung naik kereta yang lumayan penuh itu,but what the hell,toh gue cm nebeng satu stasiun sampe manggarai doang.dengan sabar,gue menunggu kereta itu sampai manggarai.1 menit,2 menit,3 menit...7 menit,akhirnya kereta itu sampailah di stasiun manggarai.gue yakin banget soalnya gue mulai melihat banyak rel,dan ada kereta buat keluar kota.tapi anehnya,kok kereta gue ga berhenti yaaa...gue pikir,oh mungkin belum,mungkin kereta ini berhentinya agak diujung.boo...tapi udah sampai tuh peron abis kereta ini ga berhenti2 juga,melambat pun enggak. paniklah gue...ya iya dong,ini kereta menuju bogor gituuu,mau dibawa sampe mana gueee....rumah gue ada diujung sebelah sananya gitu.

gue dah panik tuh,tapi tetep sok cool,soalnya mau teriak2 n panik pun nih kereta ga bakal berhenti gitu (ya iyalah emangnya kopaja) gue masih berharap dia bakal berhenti di tebet atau cawang,at least kan ga jauh2 amat dari manggarai,jadi gue masih bisa balik n ngejar kereta yang ke serpong.

ternyata oh ternyata...kereta ini ga berhenti di stasiun manapun yang gue sebutkan tadi.sesuai namanya,jalan kereta ini emang express banget,dan gue dengan mata nanar cuma bisa melihat berbagai stasiun yang dilewatin.mulai dari dua stasiun tadi,trus kalibata,pasar minggu,tanjung barat,lenteng agung,dan stasiun kampus gue tercinta, universitas indonesia.akhirnya kereta gue berhenti juga...di PONDOK CINA.argh!

oh dan tentunya sepanjang jalan menuju depok tadi gue berpapasan dong sama kereta yang mau keserpong,dan berarti gue dah ga mungkin banget bisa ngejar kereta yang jam 17.29 itu.

untungnya (hey,im a positive person) begitu kereta gue berhenti di stasiun barengan sama kereta ekonomi yang menuju kota dateng,jadilah gue langsung berlari-lari,menembus ujan (emang ujan beneran bo) menyebrangi stasiun buat naik kereta itu.fiuh, untung kekejar.akhirnya gue bisa kembali ke manggarai buat mengejar the next train to serpong.tapi pas gue naik kereta itu gue sempat panik takut ditagihin tiket sih,karena sebenarnya kan gue penumpang gelap,ga beli tiket,baik yang buat ke depok atau buat ke manggarai,gue cm mengantongi satu tiket seharga 8ribu perak yang bertuliskan sudirman-serpong.

untungnya lagi,selama gue menaiki kedua kereta itu sama sekali ga ada mas2 penjual tiket yang berkeliaran.dan jadinya petualangan gue dihari itu hanya menghabiskan uang sebesar 8 rb perak,padahal gue dah lintas kota lintas propinsi. (DKI Jakarta - Jawa Barat - DKI Jakarta - Banten)it's a good thing karena sisa uang di dompet gue cuma tinggal 12 ribu perak.

and finally,gue sampe dirumah,safe n sound,pada pukul 20.00 (kalau gue naik jam 17.29 gue sampe rumah sekitar jam setengah tujuhan tuh)

ya begitulah...
A WOMAN SHOULD HAVE ....
enough money within her control to move out
and rent a place of her own even if she never wants
to or needs to...
A WOMAN SHOULD HAVE ....
something perfect to wear if the employer or date of her
dreams wants to see her in an hour...
A WOMAN SHOULD HAVE ...
a youth she's content to leave behind....
A WOMAN SHOULD HAVE ....
a past juicy enough that she's looking forward to
retelling it in her old age....
A WOMAN SHOULD HAVE .....
a set of screwdrivers, a cordless drill, and a black
lace bra...
A WOMAN SHOULD HAVE ....
one friend who always makes her laugh... and one who
lets her cry...
A WOMAN SHOULD HAVE ....
a good piece of furniture not previously owned by anyone
else in her family...
A WOMAN SHOULD HAVE ....
eight matching plates, wine glasses with stems, and a
recipe for a meal that will make her guests feel honored...
A WOMAN SHOULD HAVE ....
a feeling of control over her destiny...
EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
how to fall in love without losing herself..
EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
HOW TO QUIT A JOB,
BREAK UP WITH A LOVER,
AND CONFRONT A FRIEND WITHOUT RUINING THE FRIENDSHIP...
EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
when to try harder... and WHEN TO WALK AWAY...
EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
that she can't change the length of her calves,
the width of her hips, or the nature of her parents..
EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
that her childhood may not have been perfect...but it's over...
EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
what she would and wouldn't do for love or more...
EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
how to live alone... even if she doesn't like it...
EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
whom she can trust,
whom she can't,
and why she shouldn't
take it personally...
EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
where to go...
be it to her best friend's kitchen table...
or a charming inn in the woods...
when her soul needs soothing...
EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
what she can and can't accomplish in a day...
a month...and a year...

— Pamela Redmond Satran
why did you do that?don't u know that it hurts me?


____________________



nemu artikel ini tadi di newsweek:

You Never Call Me

Parents should think twice before pushing their children toward the altar. According to "Marriage: The Good, the Bad and the Greedy," a paper published by the American Sociological Association, married people are significantly less likely than the unmarried to visit their parents and siblings. Only 60 percent surveyed admitted contacting their parents in the past month, as compared with 80 percent of never-married respondents.

Only 30 percent said they'd socialized with friends in the same period, in contrast to 70 percent of unmarrieds.

The silver lining? Married couples are asking less of others: from 1985 to 2004, the number of people they confided in dropped by one third, while the amount of deep discussion with their spouses rose. Here's to wedded bliss—and isolation.



cheers!
udah lama banget blog ini ga ditulisi secara layak. bukannya nggak punya waktu, tapi gue takut saat gue menulis, gue ga bisa berhenti dan mulai meluapkan terlalu banyak. karena gue ga punya waktu untuk luapan perasaan apapun saat ini.

tapi, gue cuma mau bilang, sepertinya dari beberapa waktu yang lalu gue akhirnya berhenti menjadi anak-anak. gue bukan lagi seorang cewek yang cukup beruntung untuk terus berpikir bahwa neverland itu ada dan bisa dipertahankan untuk tetap berada disana, the reality that i used to blocked had found its way in, karena mereka udah terlalu bosan dan marah ga dianggap sama gue, akhirnya mereka mendobrak masuk dan choose to stay here, permanently. celah untuk gue menganggap itu ga benar udah ketutup, and time to face the ugly truth was finally here.

so, here i am, a bitter grown up woman, yang akhirnya menyerah untuk terus duduk manis di tepi jendelanya. i've closed the curtain, so when the boy is eventually come, he'll only find a closed empty window with nobody waiting for him. im so sorry, but i've waited too long.

________

mungkin kalau ada yang baca tulisan ini, mereka bakal berpikir kalau hidup gue berantakan, atau kalau mau berpikir lebih buruk lagi, somebody ain't treat me rite. mungkin itu benar, mungkin juga salah.tapi ketidakbahagiaan terbesar gue disebabkan karena gue ga cukup berbesar hati untuk benar-benar menerima apa yang ada di depan gue sekarang.

gue ga bisa berhenti untuk terus melihat ke belakang, dan terus membandingkannya dengan apa yang ada di depan gue sekarang. sesuatu yang jauh, sesuatu yang ga lo punya, selamanya akan terlihat lebih indah dibanding apa yang ada di tangan lo. harusnya gue cukup bijak untuk menyadari hal itu, tapi gue ga bisa. dan karena itulah gue sulit untuk merasa bahagia, karena gue ga bisa mensyukuri apa yang gue punya.

gue ngerti 100% bahwa lo ga bisa selalu dapetin apa yang lo mau, gue dah cukup belajar banyak untuk ngeyakinin hal itu.
tapi sekarang, bahkan disaat gue sebenarnya ga tau apa yang gue bener2 mau, gue masih aja terus2an berharap sesuatu yang berbeda.mau sampe kapan coba?

gue kayak anak kecil bodoh yang terus2an berharap bakal kebangun dari mimpiburuknya. berharap gue membuka mata di suatu pagi dan hidup gue balik kayak dulu,saat gue masih bebas untuk bermimpi, dan bebas untuk menutup mata and pretending that im a child forever.

in order to be happy, i have to let go...
but sadly, that's the only thing that i cant do, meanwhile i dont know what im holding on to.
stupid.
hihihi, di tengah2 proses kehamilan dan menunggu si anak ini lahir, yang membuat gue paling ga sabar adalah bisa beli buku cerita yang banyak, hahahaha....

gue bisa milih2 dongeng sebelum tidur, sesuai selera gue dong pastinya secara si anak belum bisa ngomong. jadi nanti dia bakal punya banyak buku dongeng bergambar peri2 cantik, hahaha (oh semoga gue bisa tetap menjaga ke-straight-an anak gue sampe gede)

yah pokoknya bayangan bisa membeli buku cerita yang banyak bikin gue sangat excited, hhahahaha...
now, here i am, in twilight time. this time around always gives me a special feeling, like i can have my own spur of the moment.

but im too tired now *sigh* so i guess i'll catch up with u later
Hidup ini emang penuh ironi ya...ada orang2 yang sangat menginginkan sesuatu, tapi mereka ga bisa-bisa mendapatkannya.
Tapi ada juga orang yang ga mau, ga pengen, bahkan ga peduli,tapi ternyata mendapatkan hal2 yang diidam2kan oleh sebagian orang lain tadi.

Alangkah enaknya kalau kita bisa switch place with anybody we want,mungkin hidup akan terasa sedikit lebih mudah.

Jadi inget jaman kecil dulu, dilema terbesar paling adalah, mau makan apa ya?mau main apa ya?pakai baju yang pink atau yang kuning ya...
Untuk hal2 yang lebih besar dan berat, ada kedua orangtua yang siap memilihkannya untuk kita.

Waktu kuliah juga. Kebingungan gue yang paling gede rasanya cuma menentukan mata pelajaran apa yang diambil. Bingung milih antara mata pelajaran yang nggak terlalu gue suka, tapi banyak temen2 yang ngambil, atau milih mata pelajaran yang gue bener2 suka, tapi bisa dibilang tanpa temen.
DI hari2 lain, kebingungan gue paling cuma berkisar antara makhluk2 berkelamin laki2. Bimbang memutuskan siapa diantara para kodok2 itu yang bisa berubah jadi pangeran saat gue cium. Itupun adalah kebingungan yang menyenangkan.

Dilema gue saat ini, sama sekali ga menyenangkan. tapi lucunya, buat orang lain, apa yang gue alamin sekarang bisa jadi sesuatu yang sangat membahagiakan, mungkin sesuatu yang mereka tunggu2 sejak lama, dan sama sekali mereka ga memikirkan apa yang gue pikirinsaat ini.
Rasanya, kalau mengingat orang2 itu, gue merasa sangat berdosa karena menjadikan hal ini sebagai sebuah dilema.

boleh ga gue menjadi picik dan memilih untuk menyalahkan terciptanya dilema gue ke society.karena seandainya gue ada disociety yang beda,mungkin gue ga akan merasa sebingung ini.karena kalau secara pribadi sih, gue menikmati apa yang gue alami sekarang.walaupun harus secara jujur diakui, kalau ga tau, gue nggak akan menyadari apa2,hehehe.

ya segitu dulu aja.
Pernah nggak lo merasakan bahwa seharusnya lo dah hancur berkeping-keping, dan lo terheran-heran menemukan diri lo masih utuh?
Atau pernah nggak lo berharap untuk 'tumbang' dan terkapar tak berdaya tanpa kesadaran apapun tentang segala hal yang sedang terjadi di sekeliling, bahkan di hidup lo?
Atau mungkin lo pernah berdoa diam-diam, berbisik pada Tuhan untuk mengambil hati lo, dan menyimpannya untuk sementara waktu. Sampai cangkang tubuh lo lebih kuat dan tahan banting, sehingga saat hati itu kembali dia nggak akan patah ataupun terluka.

Semalam gue berdoa sama Tuhan. Nggak, gue ga minta hati gue diambil, karena cuma itu yang gue punya, dan bisa bikin gue merasakan. Gue minta supaya Tuhan mau berbaik hati dan membiarkan gue tidur lebih lama. Mungkin terdengar picik dan pengecut, karena orang yang lebih berani akan meminta untuk nggak pernah terbangun lagi, tapi gue nggak punya nyali.

Gue cuma pengen rehat, dan beristirahat sejenak. Rasanya gue butuh untuk mengisi ulang energi gue.Untuk sementara aja, gue pengen berhenti jadi diri gue sendiri, or at least diri gue sekarang yang gue sendiri bahkan udah nggak ngenalin lagi gue siapa.
Seperti biasanya, gue duduk di depan komputer dan merasa gamang. I have this urge to write something, to share the burden, tapi gue ga tau pastinya dari kapan, gue dah kehilangan kemampuan untuk membagi apa yang gue rasakan dengan orang lain.

gue ingat jaman sma dulu, tiap kali gue butuh a shoulder to cry on, gue tinggal memencet tombol2 di telpon, dan semua beban itu akan terbagi dengan orang lain.kayaknya tahun lalu pun gue masih punya kemampuan untuk menimpakan setengah beban gue sama orang lain deh, sekarang kenapa engga ya?

why i have to put this invisible thread in both sides of my lips just to create a pretentious smile. i didnt need it, nobody would believe it, then why i still wear it?

i always believe that im an extrovert, tapi kenapa sekarang gue cuma bisa membagi cerita yang gue yakin bisa membuat gue menelan tangis gue ya. seberapa buruknya sih emang kalau ada orang yang melihat gue nangis.

silahkan bilang gue sok kuat or anything,but believe me, if i could, gue pengen nangis2 bombay didepan siapapun yang mau meluangkan waktu.
sekarang, kenapa tawa terbahak-bahak gue rasanya berujung dengan sebuah isakan yang tertelan ya?

I DO REALLY WANT TO CRY....!!!!


So finally, let me proudly present, the dream that comes to life:
PENGGAMBAR MIMPI, by E. Nandiasari, Nilam Suri, Nurkastelia A., Runi Indrani
12 short stories for you to enjoy.
Support your local dreamers!
Get it, buy it, read it, and love it!
Visit you favorite bookstores, now!
gue fikir kita dah sama-sama dewasa, but then again gue bisa aja salah kan?

gue juga menyadari terkadang gue bisa menjadi orang yang menyebalkan dan nggak sensitif, but i praised u for alwaya being a reminder for my wrongs. tapi apakah hal itu hanya berlaku saat gue melakukan kesalah ke orang lain, tapi berhenti berfungsi disaat lo rasa gue melakukan kesalahan justru sama lo?

kita mungkin memang nggak sedekat dulu, since they moved ur desk further, joining ur crowd.tapi gue fikir hal itu nggak bakal jadi masalah, kita bakal tetap jadi teman baik, tapi sepertinya lagi-lagi gue salah.

lo selalu jadi orang yang bisa gue andalkan saat gue butuh honest opinion, about anything, bahkan walaupun gue tau kalau kita berdua itu memang orang yang beda, tapi mungkin justru orang kayak lo, yang sama sekali nggak kayak gue, yang gue butuhin.

jadi...
sebagai orang yang selalu jujur, bukankah harusnya u spit it on my face ya saat lo rasa gue salah, bukannya turn ur back n walk away, pretending to be deaf when i called u.
i wish i could say, just go then..but, apparently i really love it being ur friend.

sadly, i know i'll never have the guts to tell this all to u.

so long then...
Siapa yang lagi gue coba bodohi sih? menipu diri sendiri, dan jadinya menipu orang-orang lain yang peduli. buat apa? belum pasti juga, dan sejauh ini yang diperjuangkan itu malah lebih banyak bikin sakit hati.

ternyata rasa insecurity itu bisa jadi mesin penghancur yang sangat mematikan ya.dan selama rasa insecure itu masih ada, semua masalah lain nggak bakal bisa terselesaikan, wong akarnya aja belum kecabut.

kayak lagi menghitung detik2 terakhir, mau sampe selama apa pun pura2 semuanya baik2 aja, toh akhirnya tetep harus menerima kenyataan kalau semua itu adalah suatu kesalahan, dan harus dihentikan.

kayak orang susah deh, kenapa harus berpikir udah mentok sih?masih muda gitu, waktu masih panjang, pilihan masih banyak, lebih baik live the life to the fullest. ya ga??

ah tai...!
I was in love with you
And gave my heart to you
I did my best to keep you satisfied
You took the love from me
And used it selfishly
You did not give back your
Love to me at all

I gave the sun to you
You said it was too bright
I gave you diamond rings
You said they didn't shine
I gave my world to you
But you said it's not enough
What in the world could I have done
To make you be so rough

'Til you do me right
I don't even want to talk to you
I don't even want to hear you speak my name
'Til you do me right
Only wrong is gonna come to you
Nothin' good is gonna come 'til you change
Change your ways
Until you change your evil ways

Girl I was there for you
Someone you could talk to
How could you just keep breakin' my heart
What did I do to you
To make you be so cruel
I don't understand why you've been so wrong

I tried to be your strength
You said I was too strong
I tried to compromise so
We could get along
I gave my love to you despite
Your evil ways
I guess it's clear to me there's only
One thing left to say

[Chorus]

There's a time when you know what you
Feel inside your heart
It's tellin' you that somethin' feels strange
You don't have to deny it
All you gotta do is just try it
You'll find our love grows
Stronger if you're willing to change


harusnya menurut kalian lagu itu dari siapa buat siapa?
sayangnya lagu itu ditujukan buat gue, seorang cewek yang dianggap sangat evil karena nggak bisa menghargai segala daya upaya yang dah dilakuin sang cowok buat gue.

yea rite...as if...!!
nand calls it, reverse psychology, and she's rite.

ada satu kata yang sangat2 salah ada di lagu itu, dan nggak pernah ada di hubungan gue, at least nggak dari kedua belah pihak. COMPROMISE.

how dare he?!